Oktober 24, 2011 New #3 STEAM TURBINE RECONSTRUCTION DAILY REPORT
11/10/2011 :
- PT.MAS and Chinese mechanic, piping line steam supply before new reducer and inlet main steam pipe for T/G #3.
12/10/2011 :
- Flushing piping line steam supply before new reducer and inlet main steam pipe for T/G #3.
13-22/10/2011 :
- Install new Reducer and install piping line steam supply header after that ( not yet connect to old steam suplly header ).
- Remove piping oil system T/G #3 for washing and cleaning.(continue)
- Connect and welding piping line exhaust T/G #3 to steam supply header from new reducer line.(Continue)
- Install drain system for new steam supply header.
- Install power source and panel control DC.Lube Oil Pump, Sponge Ball Cleaning Condenser and AC.Speed Oil Pump.
- Install power source and panel control Circulating water Pump #4 and Cooling tower Fan #3.(continue)
- Install and replace Temperature gauge for bearing No. 1, 2, 3 and thermo couple inlet main steam after Auto Main Steam Valve and thermo couple lower casing of T/G #3.
- Install Piping line control oil system for governor of T/G #3.
25/10/2011
- Connect and welding line exhaust pipe T/G #3 to steam supply header from #2 reducer line.(oke)
- Preparing Install Auto Main Steam Valve.(continue)
- Remove oil system pipe T/G #3 for washing and cleaning.(continue)
- Install cable for power source and panel control Circulating water Pump #4 and Cooling tower Fan #3.(continue)
- Install piping line instrument for flow measuring and indication exhaust T/G #3 and new steam supply header after #2 reducer.(continue)
- Civil works for construction Cooling Tower Fan 3# (continue)
26/10/2011
- Washing and cleaning piping oil system T/G #3 with HCL ( 10.00 WITA – 16.00 WITA ) and NaOH Two hour until PH:10.
- Continue piping safety valve exhaust #2 reducer.ok
- Welding all support and all elbow steam supply header and exhaust #3 turbine pipe.
- Install cable for circulating and cooling tower fan control panel. (continue)
- Civil works for construction Cooling Tower Fan 3# (continue)
27/10/2011
- Washing and cleaning all oil system pipe with HCL and NaOH sudah selesai tinggal dipasang ke turbine.
- Washing and cleaning all valve for oil system oke.
- Install cable power untuk circulating pump #4 and #3 CTF to control panel (continue )
- Install piping instrument (PDS) For all Indication T/G #3 ( continue )
- Preparing Install AMSV and Main steam pipe ( continue )
28/10/2011
- Cleaning oil tank, oil stainer and oil ejector.
- Install return Oil system header to oil tank.
- Preparing install panel control and power source for DC.Lube and AC.Speed for T/G# 1 and 2. ( continue )
- Preparing Install AMSV and Main steam pipe ( continue )
- Install piping instrument (PDS) For all Indication T/G #3 ( continue )
29/10/2011
- Preparing Install AMSV and Main steam pipe ( continue )
- Install piping instrument (PDS) For all Indication T/G #3 ( continue )
- Install Oil sytem pipe for turbine ( continue )
- Preparing install panel control and power source for DC.Lube and AC.Speed for T/G# 1 and 2. ( continue )
- Preparing Install inlet pipe for #4 circulating pump.(continue )
- Tinggalkan komentar
- Posted under Uncategorized
Oktober 20, 2011 Mechanical Seal
Pengertian
Mechanical Seal, apabila diterjemahkan secara bebas, adalah alat pengeblok mekanis. Namun penerjemahan tersebut menjadi lebih susah dimengerti dan dibayangkan bila dibandingkan pengertian teknisnya. Mengapa? Karena pengertian seal mekanis mengandung arti begitu luas. Apakah semua tipe seal mekanis bisa disebut dengan mechanical seal? O-ring merupakan seal mekanikal, demikian juga Labyrinth Seal, namun keduanya jelas bukan MechanicalSeal.
Mechanical seal yang dibahas pada situs ini adalah suatu tipe Seal yang dipakai pada pompa-pompa kelas industri, agitator, mixer, chiller dan semua rotating equipment (mesin-mesin yang berputar).
Untuk mempermudah pemahaman, maka situs ini merasa perlu menyatakan penulisan mechanical seal yang ideal adalah Mechanical Seal dan disepakati terlebih dahulu bahwa mechanical seal pada dasarnya adalah masuk golongan seal. Seal tidak akan diterjemahkan namun diperjelas pengertiannya lewat serangkaian contoh.
Terminologi
Yang paling susah buat pemula adalah pengertian atas istilah-istilah yang digunakan dalam penyebutan bagian mechanical seal. Untuk itu mari kita samakan persepsi dahulu atas hal-hal sebagai berikut: SHAFT
adalah as/bagian poros sebuah alat dan merupakan bagian utama dari mesin-mesin yang berputar. Buku manual mesin-mesin lebih sering menggunakan kata shaft dibandingkan as.
SHAFT SLEEVE
adalah sebuah bushing/adapter yang berbentuk selongsong yang terpasang pada shaft dengan tujuan melindungi shaft akibat pengencangan baut/screw MechanicalSeal.
SEAL
adalah suatu part/bagian dalam sebuah konstruksi alat/mesin yang berfungsi untuk sebagai penghalang/pengeblok keluar/masuknya cairan, baik itu fluida proses maupun pelumas. Pada sepeda motor atau mobil sering kali bengkel bilang karet sil, sil-as kruk, oil-seal. Analogi lainnya, coba anda bayangkan sebuah aquarium. Apa yang akan terjadi jika kaca-kaca ditempelkan tanpa diberi lem kaca/sealant?
Lem kaca setelah mengeras, pada kondisi tersebut adalah seal. Bisa disepakati bahwa Seal lebih merujuk pada pengertian suatu fungsi. Apapun bentuk dan materialnya, apabila berfungsi untuk mencegah kebocoran, maka dia disebut sebagai Seal.
O-RING awalnya adalah merujuk pada karet berbentuk bundar yang berfungsi sebagai Seal. Perkembangan teknologi o-ring sebagai alat pengeblok cairan sekunder (secondary sealing device) menghasilkan berbagai tipe o-ring berdasarkan materialnya. Material o-ring, ada dari karet alam, EPDM, Buna, Neoprene, Viton, Chemraz, Kalrez, Isolast hingga tipe Encapsulated O-Ring, dimana o-ring dibalut dengan PTFE. Ada pula yang murni dibuat dari PTFE dan disebut dengan Wedge.
SEALFACE
adalah bagian paling penting, paling utama dan paling kritis dari sebuah Mechanical Seal dan merupakan titik PENGEBLOK CAIRAN UTAMA (primary sealing device) Terbuat dari bahan Carbon atau Silicone Carbide atau Tungsten Carbide atau keramik atau Ni-resist, dengan serangkaian teknik pencampuran. Permukaan material yang saling bertemu (contact) dibuat sedemikian halusnya hingga tingkat kehalusan / kerataan permukaan mencapai 1 – 2 lightband.
Seringkali Sealface disebut juga dengan contact face. Seal faces berarti ada 2 sealface. Yang satu diam dan melekat pada dinding pompa, dan yang lainnya berputar, melekat pada shaft.
Yang berputar biasanya terbuat dari bahan yang lebih lunak/soft. Kombinasinya bisa berupa carbon versus silicone carbide, carbon vs ceramic, carbon vs tungten carbide, silicone carbide vs silicone carbide, silicone carbide vs tungsten carbide.
Setelah memahami bagian-bagian yang menyusun Mechanical Seal, maka bisa dilanjutkan bahwa MechanicalSeal adalah suatu sealing device yang merupakan kombinasi menyatu antara sealface yang melekat pada shaft yang berputar dan sealface yang diam dan melekat pada dinding statis casing/housing pompa/tangki/vessel/kipas.
Sealface yang ada pada shaft yang berputar seringkali disebut sebagai Rotary Face/Primary Ring. Sedangkan Sealface yang diam atau dalam kondisi stasioner sering disebut sebagai StationaryFace / Mating Ring / Seat.

Dengan demikian bisa diambil simpulan definisi Mechanical Seal adalah Sebuah alat pengeblok cairan/gas pada suatu rotating equipment, yang terdiri atas:
1. Dua buah sealface yang bisa aus, dimana salah satu diam dan satunya lagi berputar, membentuk titik pengeblokan primer (primary sealing).
2. Satu atau sekelompok o-ring/bellows/PTFE wedge yang merupakan titik pengeblokan sekunder (secondary sealing).
3. Alat pembeban mekanis untuk membuat sealface saling menekan.
4. Asesoris metal yang diperlukan untuk melengkapi rangkaian Mechanical Seal.
Cara Kerja Mechanical Seal
Titik utama pengeblokan dilakukan oleh dua sealfaces yang permukaannya sangat halus dan rata. Gesekan gerak berputar antara keduanya meminimalkan terjadinya kebocoran. Satu sealface berputar mengikuti putaran shaft, satu lagi diam menancap pada suatu dinding yang disebut dengan Glandplate.
Meterial dua sealfaces itu biasanya berbeda. Yang satu biasanya bersifat lunak, biasanya carbon-graphite, yang lainnya terbuat dari material yang lebih keras seperti silicone-carbide.
Pembedaan antara material yang digunakan pada stationary sealface dan rotating sealface aalah untuk mencegah terjadinya adhesi antara dua buah sealfaces tersebut. Pada sealface yang lebih lunak biasanya terdapat ujung yang lebih kecil sehingga sering dikenal sebagai wear-nose (ujung yang bisa habis atau aus tergesek).
Ada 4 (empat) titik sealing/pengeblokan, yang juga merupakan jalur kebocoran jika titik pengeblokan tersebut gagal.
Silakan lihat gambar di atas. Titik pengeblokan utama (primary sealing) adalah pada contactface, titik pertemuan 2 buah sealfaces, lihat Point A. Jalur kebocoran di Point B diblok oleh suatu O-Ring, atau V-Ring atau Wedge (baca: WED). Sedangkan jalur kebocoran di Point C dan Point D, diblok dengan gasket atau O-Ring.
Point B, C & D disebut dengan secondary sealing.
Semoga Bermanfaat.
SUMBER : http://www.agussuwasono.com
- Tinggalkan komentar
- Posted under Uncategorized
Oktober 20, 2011 Sepatah Kata
Terimakasih anda telah berkunjung ke blog saya. Blog ini dibangun sebagai sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan, khususnya untuk rekan-rekan di Power Plant PT.MAKASSAR TENE.
Dalam blog ini saya akan membahas berbagai pengetahuan praktis yang berhubungan dengan pengoperasian Steam Turbine dan semua alat pendukungnya secara spesifik yang berada di Power Plant.
Materi-materi yang saya sajikan berdasarkan data-data yang ada juga pengalaman-pengalaman saya dilapangan. Dan saya berharap apa yang saya tulis besar manfaatnya.
Untuk pengembangan dan penyempurnaan blog ini kritik dan saran sangat saya harapkan. Silahkan isi komentar di setiap materi yang saya sajikan.
Oh ya, saya juga berharap blog ini bisa menjadi alat komunikasi dan ajang silaturahmi, khususnya untuk rekan-rekan di Power Plant PT.MAKASSAR TENE. Terimakasih, SELAMAT MEMBACA…
- Tinggalkan komentar
- Posted under Uncategorized
Oktober 20, 2011 Hystorical BFWP #2
Pada Tanggal 16 oktober 2011, BFWP no.2 tidak bisa di start karna selalu overload ( 412 – 418 A ). Ternyata diketahui Putaran shaft sangat berat. Ahirnya diputuskan untuk bongkar pompa bagian belakang karna menurut analisa kemungkinan settingan spring pada mechanical seal terlalu keras.
Pada tanggal 17 oktober 2011 Pompa bagian belakang BFWP no.2 dibongkar untuk pemeriksaan dan setting mechanical seal. Setelah dilakukan pemeriksaan memang mechanical sealnya kotor dan berkerak. Springnya juga kaku atau tidak fleksibel akibat kotoran dan kerak tadi. Setelah dibersihkan dan disetting ulang kemudian pompa dipasang kembali.
Pada tanggal 18 oktober 2011 dilakukan test running BFWP no.2 tapi motor pompa masih tetap over load ( 412 – 418 A ) dan BFWP selalu trip ketika di start. Penyebab nya masih pada putaran shaft pompa yang keras. Maka diputuskan untuk dibongkar kembali dan dilakukan cek ulang secara menyeluruh.
Pada tanggal 19 Oktober 2011 pompa BFWP bagian belakang dibongkar kembali dan di cek ulang secara menyeluruh. Ternyata ditemukan permukaan balance disc telah aus/cacad sehingga ketika shaft berputar blance disc nya seret atau macet yang mengakibatkan shaft juga ikut macet.
Karna fabrikasi atau perbaikan balance disc yang memakan waktu cukup lama ( sekitar 10 hari ) padahal BFWP no.2 harus segera bisa running maka diputuskan untuk mengambil balance disc dari pompa BFWP yang tidak dipakai di area turbine #3. Kemudian Balance disc dipasang di BFWP no.2
Pada Tanggal 20 oktober 2011 BFWP no.2 test running ( mode local switch on ). BFWP dapat running dengan baik ( putaran shaft pompa sudah ringan ) dan setting outlet pressure 5.6 MPa dengan ampere 324 A , dengan kondisi hanya circulasi saja yang terbuka ke deaerator, sementara outlet nya masih tertutup. Test running dilakukan 30 menit ( 12.00 – 12.30 WITA )
Kemudian Pada jam 13.10 WITA, BFWP no.2 di start kembali dari DCS ( mode remote switch on ). Ternyata motor pompa masih over load ( 412 – 417 ) yang masih diakibatkan oleh putaran shaft yang berat sehingga BFWP masih trip. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata ketika di stop shaft pompa tertarik terlalu banyak keposisi depan dan kemunkinan balance dich terlalu mepet ke casing. Untuk mengatasinya shaft dicoba digeser sedikit kearah belakang, dan ternyata memang shaft pompa bisa berputar dengan ringan. Maka dicoba di start kembali dari DCS dan BFWP bisa running dengan baik. ( ampere 324 – 330 A )
Setelah dilakukan pengecekan ulang dan BFWP no.2 dipastikan dalam kondisi baik maka pada pukul 13.40 WITA dilakukan syncron dengan BFWP no.1 dan BFWP no.3. Dan setelah dilakukan pemantauan selama 40 menit dan dipastikan kondisi BFWP no.2 masih dalam keadaan baik maka pada pukul 14.20 WITA , BFWP no.1 di stop. Jadi feed water ke unit boiler ditopang oleh BFWP no.2 dan BFWP no.3 Sementara untuk interlock di backup oleh BFWP no.1

- Tinggalkan komentar
- Posted under Uncategorized
Februari 20, 2011 Prosedur Black-Out
I. OPERATOR ELEVASI O M + 4M
- Buka drain valve before motorized valve inlet main steam turbine.
- Buka semua drain valve yang ke sewer/drain flash tank.
- Tutup motorized valve steam exhaust yang ke procces à informasi operator control panel.
- Buka valve exhaust main steam yang ke atmosphere.
- Buka valve anti corrosion.
- Buka semua drain steam supply yang ke procces.
- Check water level condenser sampai level normal ( Control mike-up condenser / Turbine condensing )
- Setelah semua item diatas selesai dan power supply telah ada maka :
8.1 Persiapan heating (warming-up ) main steam pipe, setelah B/L main steam temp. >350 °C.
II. OPERATOR ELEVASI 8 M + 16 M
- Buka vacuum destruction valve condenser.
- Reset start-up device , synchronizer hand wheel, manual trip valve dan axial displacement protection
- Kerjasama dengan operator control panel monitor level deaerator.
III.OPERATOR COMMON PANEL ( DEAERATOR )
- Check alarm apa saja yang action ( nyala )
- Reset switch – off Semua motor pompa yang baru trip ( BFWP, Hydrophobik pump, Supply oil pump )
- Setelah power supply ada segera start industrial water pump 1 unit dan check pressure gauge nya di elevasi 0 m.( Kerjasama dengan operator demin plant )
- Start demin pump 1 unit kemudian sirculasikan dulu dan check pressure nya.( kerjasama dengan operator demin plant )
- Start Supply oil pump 1 unit ( Tunggu informasi dari B/L unit ).
- Buka valve recirculasi BFWP kemudian start BFWP. Untuk buka outlet valve nya mohon informasi ke B/L unit.
- Check dan atur level deaerator sampai normal ( Kerjasama dengan operator demin plant )
IV.OPERATOR CONTROL PANEL ( TURBINE/GENERATOR)
- Check alarm apa saja yang action ( nyala ).
- Check pressure lube oil dan operasikan Turbo oil ( Dengan sisa pressure main steam Boiler ) sambil menunggu power supply ada.
- Setelah power supply ada segera start AC Lube oil pump dan tutup valve main steam yang ke turbo oil.
- Reset switch – off motor pompa yang baru trip ( Condensate pump )
- Tutup motorized valve steam reducer, motorized valve inlet main steam turbine, motorized valve high exhaust steam to procces dan motorized valve exhaust to procces.
- Check water level condenser dan start condensate pump 1 unit ( T/G Condensing )
- Check temperature exhaust cylinder ( < 80 °C / Turbine Condensing )
- Setelah T/G speed 0 rpm informasi ke operator 8 meter untuk start turning gear.
- Switch-off semua turbine protection kecuali lube oil pressure low.
10. Persiapan untuk start-up T/G kembali antara lain:
10.1. Start turbo oil pump dan stop AC Lube oil pump.
10.2. Operasikan steam jet ejector ( Untuk vacuum pada T/G Condensing )
10.3. Monitor dipanael control selama proses start-up T/G.
- Tinggalkan komentar
- Posted under Uncategorized
September 22, 2010 Oil Paper Filter Circulation
Pada tanggal 20/09/2010 kemarin datang 2 unit mesin baru buatan cina, yaitu oil paper filter circulation. Ke-2 mesin ini fungsi utamanya adalah untuk membuang kandungan air yang terdapat dalam minyak pelumas suatu mesin yang akan dioperasikan ataupun yang sedang dalam keadaan operasi.
Cara kerja mesin tersebut adalah dengan memakai media kertas khusus yang efektif untuk menyerap air yang terkandung dalam minyak pelumas, sehingga setelah mesin ini di operasikan diharapkan kadar air dalam minyak pelumasi 0 % dan ini tentunya akan meningkatkan performa mesin dan kehandalan system. Selain menggunakan media kertas pada mesin ini juga ditambahkan filter/strainer pada sisi inlet sebelum pompa yang berfungsi untuk memfilter gram-gram atau kotoran yang terkandung dalam minyak pelumas sehingga pembersihan/cleaning minyak pelumas lebih sempurna.
Pada saat mesin ini datang dan selesai di install kita tidak bisa langsung begitu saja mengoperasikanya, tetapi harus melalui beberapa tahap pengujian/tes dan juga cleaning secara menyeluruh. Sebelum mesin ini di beli sebenarnya memang sudah dilakukan pengetesan-pengetesan di pabriknya, tapi jenis minyak pelumas yang dipakainya berbeda, oleh karena itu untuk membuang sisa-sisa minyak pelumas tersebut kita harus melakukan cleaning dan flushing. Ini dimaksudkan agar minyak pelumas tidak terkontaminasi.
Setelah tahap cleaning, flushing dan pegetesan ( trial ) selesai kita bisa langsung mengoperasikanya. Adapun cara pengoperasianya adalah sebagai berikut :
1. Pastikan selang inlet dan outlet telah terpasang dengan benar dan kuat, supaya nanti dalam pengoperasianya tidak terlepas.
2. Connec power nya dan pastikan telah terpasang dengan benar.
3 . Pasang kertas filter yang baru.
4. Buka inlet valve nya 1- 2 putaran.
5. ON-kan powernya dan pastikan oil paper filter beroperasi dengan aman.
6. Cek kembali kebocoran-kebocoran pada paper filter dan atur pressure nya 0,15 Mpa dengan mengatur pembukaan drain valnya.
7. Setelah dipastikan semua kondisi berjalan dengan benar dan aman, lakukan pengecekan rutin dan pergantian kertas dan penggantian filter 4 jam sekali atau tergantung kondisi kwalitas miyak pelumas.
Demikianlah penjelasan saya secara singkat tentang oil paper filter circulatiaon. Semoga bermanfaat khususnya untuk operator auxiliary turbin power plant PT. Makassar Tene. Saya tunggu komentar, kritik dan saranya..
- Tinggalkan komentar
- Posted under Uncategorized
Desember 24, 2009 OPERATING SEQUENCE OF THE GOVERNING SYSTEM
* Sebelum turbine start tidak ada pressure pada keseluruhan jalur pulse oil. Oleh karenanya plunger dari ke dua pressuru transducer dan pilot valve tetap berada pada posisi lower limit karna kerja pegas. Begitupun dengan syncronizer tetap berada pada posisi lower limit.
* Setelah start turbo oil, pressure oil flow akan mengalir melalui sebuah check valve dan kemudian terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama akan mengalir melalui pilot valve masuk ke ruang diatas piston servo motor. Dengan demikian servo motor dapat bekerja membuka steam governing valve. Bagian ke dua akan mengalir melalui axial displacement limit device, emergency governor pilot valve dan selenoid valve kemudian masuk ke sebuah reservoir didalam manipulation seat dari main stop valve.
* Open main stop valve untuk start turbine. Ketika speed turbine terus bergerak naik, maka outlet pressure main oil pump akan ikut naik sampai mencapai nilai yang telah ditentukan, sehingga mengakibatkan turbo oil pump akan stop secara otomatis. Seterusnya governor akan aktif (auto tracking ON ) dan control unit turbine akan dapat dilayani oleh governor itu sendiri.
- Tinggalkan komentar
- Posted under Uncategorized
Desember 24, 2009 PROSEDUR SYNCRON GENERATOR
1. Setelah mendapat signal bisa syncron dari T/G, dan menerima perintah dari kepala shift, maka
2. ON -kan power supply/AVR. ON-kan air breaker kipas di AVR serta periksa apakah sudah berjalan normal.
3. Melepas jemper conectio field suppresion switch trip under rotor protection dan field suppresion switch trip under back-up protection pada integrate protection device generator.
4. ON-kan disconnec switch di AVR dan periksa apakah sudah pada posisi yang baik.
5. ON-kan breaker magnetic (FMK) dan periksa apakah sudah dalam posisi yang baik.
6. Gabungkan jumper field suppresion switch under rotor protection dan field suppresion switch trip under back-up protection pada integrate protection device generator dan periksa apakah jumper sudah connec dengan kuat.
7. ON-kan pulse source dan posisi operation mode di auto, lampu pulse indikator akan menyala, lalu tombol ‘exc’ teggangan standar otomatis naik sampai 7 KV (terbaca di panel depan> Uap, Ubc, Uca) setelah itu tekan tombol raise untuk menaikan teggangan standar (10.5 KV ) serta perhatikan listrik 3 phase generator harus nol.
8. Posisikan selector switch ke auto untuk menjalankan protection relay, periksa apakah sudah normal.
9. ON-kan syncronisom control device sesuai dengan generator yang di syncrone.
10. Syncronisasi sudah berjalan secara otomatis.
11. Kembalikan selector switch ke posisi off.
12. Selesai dan melapor kepada kepala shift.
- Tinggalkan komentar
- Posted under Uncategorized
Desember 24, 2009 LUBE OIL SYSTEM / PROTECTION OF TURBINE
Lube oil system dilengkapi lube oil protectio yaitu :
~bila press.lube oil turun sampai 0.055 Mpa maka akan terjadi alarm. Dan jika press.lube oil turun terus sampai 0.04 Mpa, maka secara otomatis lube oil pump interlock ON. Dan jika lube oil press, Turun terus sampai 0.03 Mpa, maka turbine harus trip. Dan jika lube oil press, <0.015 Mpa, maka turning gear harus stop.
~normal lube oil press.adalah 0.08-0.12 Mpa.
~inlet main oil pump disupply oleh oil ejector dengan press, 0.0687 Mpa, sedangkan outlet main oil pump adalah 0.083 Mpa.
~kapasitas oil tank 1.6 m3. Batas normal level oil tank ialah; +190mm~-190mm.
~temperature normal lube oil adalah 35'C – 40'C.
- Tinggalkan komentar
- Posted under Uncategorized
Desember 23, 2009 NORMAL SHUT DOWN POWER PLANT
1. Monitor load procces berikut pemakaian steam nya.
2. Kordinasi dengan procces pada saat penurunan load dan steam.
3. Lakukan start D/G dan syncron (monitor penurunan beban agar tetap stabil)
4. Jika load sudah minim dan pemakaian sudah di stop dan kira2 load sudah bisa dihandle D/G, maka lakukan:
~T/G lepas syncron
~Tunggu beberapa saat sampai load dan teggangan D/G kembali stabil maka stop T/G.
~Stop B/L dan amankan semua system dan equipment.
- Tinggalkan komentar
- Posted under Uncategorized
